Al-Kariim
Secara bahasa Al-Karim ( الكريم ) mempunyai arti Yang Maha Mulia, Yang Maha Dermawan
atau Yang Maha Pemurah. Dia-lah Zat Yang Mahamulia secara mutlak. Allah Mahamulia
di atas segala-galanya, sehingga apabila seluruh makhluk-Nya tidak ada satupun
yang taat kepada-Nya, maka tidak akan mengurangi sedikitpun kemuliaan-Nya.
Begitu pula sebaliknya, jika seluruh makhluk-Nya taat dan patuh dalam
melaksanakan perintah-Nya, maka tidak akan pula menambah kemuliaan-Nya.
Sedangkan menurut
istilah, Al-Karim diartikan sebagai Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemurah
yang memberi anugerah atau rezeki kepada semua mahkluk-Nya. Dapat pula dimaknai
sebagai Dzat yang sangat banyak memiliki kebaikan, Maha pemurah, pemberi nikmat
dan keutamaan, baik ketika diminta maupun tidak.
Saat dikaitkan dengan perilaku
manusia di dunia ini, maka orang yang memberikan sesuatu kepada sebagian
manusia dan menyisakan sebagian, dia adalah seorang yang murah hati. Orang yang
memberikan sebagian besar miliknya dan menyisakan sedikit untuknya, dia adalah
orang yang dermawan.
Saat Al-Karim dimaknai Maha Pemurah,
maka Allah memberi berbagai kebaikan tanpa mengharap pamrih, karena Allah
bersifat Maha Pemurah secara mutlak. Allah telah menyediakan segala keperluan
makhluk-Nya dan mempermudahkan makhluk-Nya memperolehi rezeki masing-masing
dengan kehendak-Nya juga. Tidak ada sesuatu yang di luar campur tangan-Nya untuk
memberikan membahagikan dan kebaikan kepada makhluk-Nya. Hal ini dapat kita
pahami dari firman Allah dalam QS. Adz-Dzariyat (51) : 57-58 :
Artinya : “Aku tidak menghendaki rezeki
sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku
makan. Sesungguhnya, Allah Dialah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai Kekuatan
lagi Sangat Kokoh.”
Saat Al-Karim dimaknai Maha Pemberi,
maka Allah senantiasa memberi, tidak pernah terhenti pemberian-Nya. Kedermawanan
Allah diberikan-Nya kepada semua manusia,
manusia yang tidak berharta maupun berdosa. Manusia tidak boleh berputus
asa dari kedermawanan Allah jika miskin dalam harta, karena kedermawanan-Nya
tidak hanya dari harta yang dititipkan melainkan meliputi segala hal. Manusia
yang berharta dan dermawan hendaklah tidak sombong jika telah memiliki sifat
dermawan karena Allah tidak menyukai kesombongan. Dengan demikian, bagi orang
yang diberikan harta melimpah maupun tidak dianugerahi harta oleh Allah, maka
keduanya harus bersyukur kepadanya karena orang yang miskin pun telah diberikan
nikmat selain harta.
Perhatikan firman Allah dalam QS. An-Naml (27) : 40 berikut ini.
Artinya : “Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari
Al-Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu
berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di
hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku
apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang
bersyukur, maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan
Barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha
Mulia".
Ayat tersebut mengajarkan umat Islam untuk senantiasa bersyukur kepada
Allah. Kenapa demikian? Karena barangsiapa yang bersyukur kepada-Nya, maka
sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa
yang ingkar, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Mahamulia. Allah memberi
bukan karena butuh kepada makhluk, tapi karena Allah bersifat Kariim (Maha
Pemurah). Jadi, tidak sepantasnya manusia berbuat durhaka kepada Allah karena
sudah terlalu banyak Allah menurunkan berbagai nikmat dan rahmat untuk mereka.
Allah berbuat baik kepada seluruh
makhluk tanpa sebuah kewajiban yang mesti dilakukannya. Semua kebaikan yang
diberikan Allah kepada makhluk adalah semata-mata atas kemurahan Allah kepada
makhluk-Nya. Dengan demikian, makhluk itu menjadi mulia. Perlu kita ketahui
bahwa segala kemulian yang terdapat pada makhluk adalah atas pemberian Allah
Yang Mahamulia. Hal tersebut menunjukkan akan kemuliaan makhluk tersebut disisi
Allah, melebihi makhluk-makhluk yang lainnya.
Saat Al-Karim dimaknai Yang Maha
Pemberi Maaf, maka Allah memaafkan dosa para hamba yang lalai dalam menunaikan
kewajiban kepada Allah, kemudian hamba itu mau bertobat kepada Allah swt. Bagi hamba
yang berdosa, maka Allah adalah Yang Maha Pengampun. Dia akan mengampuni
seberapa pun besar dosa hamba-Nya selama ia tidak meragukan kasih sayang dan
kemurahan-Nya. Dibandingkan dengan karunia Allah yang Maha Pemurah dan tidak
terhingga, dosa dan perbuatan maksiat seorang hamba adalah kecil dan tidak
berarti. Jika seorang hamba bertobat dari kesalahannya, Allah menghapus dosanya
dan mengganti posisi kesalahan tersebut dengan nilai kebaikan.
Jika kita mau mencermati, asmaul
husna Al-Kariim menunjukkan kesempurnaan dan kemulian Allah dalam Dzat dan
segala sifat, serta perbuatan-Nya. Di dalam nama Al-Karim terdapat segala hal
yang terpuji. Allah Mahamulia dalam Dzat-Nya, maka tidak ada cacat sedikitpun
dalam Dzat Allah. Allah Mahamulia dalam segala sifat-Nya, maka tidak ada sifat
jelek terdapat pada Allah. Allah juga
Mahamulia dalam segala perbuatan-Nya, maka tidak ada kecacatan dalam perbuatan
Allah. Sesungguhnya segala perbuatan Allah penuh dengan berbagai hikmah yang
luas.
.jpg)
Comments
Post a Comment